20
Aug
14

Mama yang Luar Biasa

Mama.

Sosok yang menyeramkan. Setidaknya, itulah pikiran Vinz kecil. Vinz yang takut mamanya marah. Vinz yang selalu menangis saat mamanya menyuruhnya minum minyak ikan, yang rasanya membuat ia hampir selalu muntah karena baunya sangat amis. Vinz yang sering sekali merasa deg-deg an setiap ada ulangan, karena ia khawatir mendapatkan nilai di bawah delapan. Kalau ia mendapat nilai jelek, 8 ke bawah merupakan standar jelek buat mamanya, maka Vinz enggan pulang. Takut dihukum. Hukumannya sangat menyakitkan.

 

Mama.

Sosok yang selalu tegas, menuntut Vinz untuk belajar terus menerus. Di saat balita berusia dua setengah tahun berlari riang gembira, Vinz kecil harus belajar mengeja dan membaca. Tak heran, pada umur tiga setengah tahun, Vinz sudah bisa membaca surat kabar. Walau kadang ia tak mengerti isi surat kabar tersebut. Yang penting, Mama tersenyum saat Vinz bisa membaca dengan lancar. Umur empat tahun, Vinz sudah hafal 18 ditambah 27 sama dengan 45. Vinz sudah hafal perkalian satu sampai sepuluh. Bukan, bukan karena Vinz anak yang jenius. Namun karena Vinz takut mamanya akan merengut dan memaksanya belajar seharian sehingga ia tak punya waktu untuk bermain bersama teman sebayanya.

 

Mama.

Sosok yang secara tak langsung membuat Vinz menangis terus di kelas satu SD, karena bosan. Anak-anak di kelasnya belajar mengeja, membaca dengan terbata-bata, Vinz sudah mulai belajar bahasa Inggris. Sudah bisa membaca dengan sangat lancar, sehingga pelajaran di kelas bagaikan neraka. Maka tidaklah mengherankan jika Vinz juara kelas. Tidak mengherankan juga jika Mam Daily, guru bahasa Inggris nya yang blasteran Inggris, paling sayang padanya. Karena Vinz bisa melafalkan abjad dalam bahasa Inggris dengan sempurna. Karena Vinz sudah mengerti perbedaan Simple Present Tense dan Simple Past Tense. Juga karena kosakata dan pronunciation Vinz lumayan bagus. Semua karena Mama yang galak.

 

Mama.

Sosok yang membuat Vinz tak mau masuk ke kelas dua karena pelajarannya terlalu mudah, sehingga Vinz pun loncat ke kelas tiga.

 

Mama.

Sosok yang membuat Vinz tak berani pulang ke rumah saat cawu dua kelas tiga, karena hanya mendapatkan ranking 5. Bagi Mama, bagus adalah ranking satu. Ranking dua, masuk kategori lumayan saja. Ranking tiga, tak ada uang jajan sehari dari Mama. Bayangkan jika mendapatkan ranking 5. Hari itu, seluruh keluarga, mulai dari nenek yang sangat memanjakan dan sayang kepada Vinz, Papa, yang jarang kelihatan di rumah karena lebih suka bekerja, hingga paman dan bibi kalang kabut mencari Vinz yang bersembunyi di toko Papa yang dijaga karyawannya saja. Vinz bahkan harus bersembunyi di belakang Nenek karena ketakutan memikirkan hukuman yang akan diterimanya di rumah. Di luar dugaan, Mama hanya berpesan: cawu depan harus juara umum lagi.

 

Mama.

Sosok yang belakangan, setelah Vinz beranjak dewasa, menjadi pahlawan baginya. Vinz sekarang mengerti, Mama memaksanya minum minyak ikan yang berbau amis supaya ia tumbuh kuat, supaya otaknya bertambah cerdas. Vinz sekarang mengerti, alasan mamanya mengajarnya dengan keras, untuk bekal masa depannya. Vinz bisa berbahasa Inggris tanpa perlu kursus. Vinz bahkan bisa mengajari teman-teman SMA nya tanpa perlu melihat buku. Vinz dengan gampang mengerjakan persamaan diferensial dan soal matematika lainnya tanpa harus banyak memeras otak. Semua berkat Mama.

 

Vinz.

Seorang anak yang terlambat menyadari, bahwa tidak ada mama yang membenci anaknya sendiri. Mama bekerja keras, untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Mama, sosok yang sering menangis di malam hari karena merindukan rasa memeluk anak-anaknya. Sosok yang lebih suka makan seadanya, supaya ada uang lebih yang bisa ia berikan untuk jajan anak-anaknya.

 

Mama.

Mama, yang tak pernah mengeluh meskipun ia tahu, anaknya pernah sangat membencinya, hingga tak mau berbicaranya. Selama itu pulalah, Mama sering menangis diam-diam, mempertanyakan dirinya sendiri, mengapa anaknya sangat membencinya? Apakah salah jika ia mendidik anaknya dengan keras, supaya anaknya bisa menjadi manusia? Mama, yang pada akhirnya tak merasa perlu menjelaskan tindakannya di masa lalu, karena ia tahu anaknya pasti akan mengerti. Mama, yang setiap bertemu dengan kolega atau rekan kerja atau saudara yang lain, selalu membanggakan anak-anaknya.

 

Vinz.

Yang menangis. Yang merindukan kegalakan mamanya. Merindukan waktu Mamanya menyuruhnya berlutut, karena itulah cara Mama menyayanginya. Mamanya berkata, di dunia yang keras, anaknya harus kuat. Tak boleh cengeng, tak boleh menyerah, karena Mama tak akan bisa membimbing anaknya setiap saat. Vinz, yang sampai sekarang masih mengingat perkataan mamanya: kalau mama sudah tak ada, Mama tak akan merasa khawatir, karena kamu sudah mendapatkan bekal yang cukup. Mama yang tak pernah memikirkan dirinya sendiri, mama yang menyayangi anak-anaknya dengan cara yang tak biasa. Mama yang luar biasa. Surga, memang terletak di telapak kaki Mama. Vinz, yang mencintai mamanya lebih dari apapun di dunia.

 

Advertisements
09
Apr
12

Love Letter

Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku tahu engkaulah yang kunanti selama ini.

 

Entah mengapa…

diriku seperti terkena setrum saat melihat dirimu, seperti ada gelombang yang mengenai hatiku,

diriku seperti isolator yang siap menerima sengatan listrik darimu.

 

Lihatlah…

Setiap ku memandangmu,

amperemeter dan voltmeter cintaku selalu menunjukan skala penuh, dan

gelombang di osiloskop hatiku bergerak tak karuan.

 

Setiap ku mendekatimu,

hatiku bergetar lebih dahsyat dari getaran turbin yang membangkitkan arus AC tiga fasa 220 volt 50 hertz.

 

Bila engkau jauh,
aku bagai komputer digital tanpa mikroprosesor,
aku bagaikan rangkaian pemancar tanpa catu daya.

 

Karena hanya engkau yang bisa me-recharge kekosongan muatan kapasitor hatiku.
Hanya engkau yang bisa mengaktifkan perangkat keras dan perangkat lunak yang aku miliki.

 

Aku ingin hatiku dan hatimu bagai anoda dan katoda dari dioda yang dibias maju.
Aku ingin hati kita bagai belitan induktor yang melekat kuat pada inti transformator.

Maka biarlah tahanan di antara hati kita besarnya tidak lebih dari satu ohm agar sinyal-sinyal analog yang aku kirim boleh mengalir indah dari emitter hatiku sampai di kolektor hatimu tanpa distorsi yang berarti.

 

Biarlah sinyal-sinyal itu engkau sampling, kuantisasi dan dekodekan agar engkau bisa menganalisis kesungguhan byte-byte cinta ini.

 

Jangan sangsikan ketulusanku padamu.
Biarlah keraguanmu aku tapis menggunakan band pass filter.

 

Kalau tak percaya pada cintaku, belahlah dadaku.
Engkau akan melihat namamu tertera indah pada display LCD hatiku.

Masih tak percaya?
Belahlah lebih dalam lagi,
engkau akan melihat rangkaian penerima yang jalur-jalurnya telah cacat akibat menerima gelombang elektromagnetik intensitas tinggi yang engkau pancarkan.

 

Masih tak percaya juga?
Biarlah….
Demi engkau aku rela memutus saklar utama kehidupanku agar engkau tahu betapa besarnya amplitudo cintaku.

 

Percayalah padaku hanya engkau cintaku.

30
Aug
11

Perdebatan Film “?” Part 2

Inilah Debat Lanjutan Wartawan Suara Islam (Abdul Halim Ayim) dengan Sutradara film “?” Hanung Bramantyo via Facebook: 

Wartawan SI (16 April jam 7:32):

Terima kasih atas jawabannya yang cukup panjang. Namun jawaban tersebut saya nilai kabur dan terkesan hanya ingin membela diri, hanya ingin mendongkrak film ”?” yang berkualits sampah dan rombengan menjadi berkualitas perunggu, (bukan perak atau emas, terlalu tinggi).

Jawaban tersebut justru menunjukkan anda telah mengadaikan idealisme dan integritas sebagai seorang sutradara film demi rasa kebencian terhadap Islam dan umat Islam. Padahal umat Islam mayoritas di negara ini sudah tertindas oleh minoritas Kristen, Katolik dan Cina dari segi politik, ekonomi dan media massa, sekarang anda malah menambahi dengan menindas dari sisi budaya. Sebelumnya saya akan menjawab dulu beberapa argumentasi anda.

Pertama, kalau anda membela diri bahwa yang menusuk Pastor itu bukan mencerminkan orang Islam karena memakai jaket coklat dan mengendarai sepeda motor, siapapun pasti tahu bahwa yang anda maksud adalah orang Islam. Anda jelas mengacu pada peristiwa di Ciketing Bekasi tahun lalu, dimana seorang Pendeta HKBP ditusuk pemuda Islam setelah sebelumnya mereka diprovokasi jemaat HKBP Ciketing dan terjadi bentrokan.

Ketika terjadi pemboman di Gereja, anda jelas mengacu pada pemboman beberapa tahun lalu yang menewaskan seorang Banser yang menjaga malam Natal. Secara tersirat anda menuding yang membom Gereja adalah orang Islam, padahal ada investigasi yang menyebutkan pemboman itu hasil dari operasi intelijen dengan sengaja untuk mendiskreditkan umat Islam sebagaimana bom buku bulan lalu.

Kalau anda mengatakan diawal film itu digambarkan beberapa pemuda yang merawat masjid, itu hanyalah strategi anda agar film itu bisa diterima umat Islam. Namun ternyata jalan cerita selanjutnya penuh dengan kebohongan, murahan dan ternyata anda memiliki daya khayal yang lumayan tinggi. Pantas kalau akhirnya anda bisa merayu bintang sinetron untuk dijadikan istri setelah sebelumnya dengan kejam mendepak mamanya Bhumi dan menelantarkannya.

Kedua, justru pernyataan saya sebelumnya mengatakan anda menolak poligami dan mendukung pemurtadan, seperti dalam kasus murtadnya Rika. Jadi anda keliru dalam menanggapi pernyataan saya. Justru saya heran seandainya dalam film “?” anda mendukung poligami, karena poligami dibolehkan dan murtad dilarang keras dalam Islam. Terbukti dalam film itu anda menolak poligami seperti dalam kasus Rika.

Padahal seandainya anda setuju poligami, saya haqqul yakin anda tidak perlu bertindak kejam dengan mendepak mamanya Bhumi demi memiliki cintanya si bintang sinetron. Cukup mamanya Bhumi dijadikan istri pertama (istri Jogja) dan si bintang sinetron jadi istri kedua (istri Jakarta). Jadi kalau singgah di Jogja atau Jakarta untuk mensutradarai film, sudah ditunggui para istri yang selalu siap menyambut kehadiran anda.

Kalau anda berdalih murtadnya Rika karena merupakan pilihan hidup setelah dendam karena ditinggal suaminya poligami, apalagi anda memasang dalil surat Al Hajj ayat 17 (bukan ayat 7), jelas itu menunjukkan anda tidak faham tafsir Al Qur’an. Cobalah buka kembali beberapa kitab tafsir Al Qur’an mengenai surat Al Hajj ayat 17 tersebut. Saya kira anda mempunyai masalah pada paradigma berfikir, mengemukakan sesuatu berdasarkan keinginan hawa nafsu anda yang mendukung pluralisme, baru dicari-carikan ayatnya.

Adapun tafsir Surat Al Hajj ayat 17 adalah, ayat itu menunjukkan orang-orang sebelum kedatangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Tetapi setelah datangnya Islam, mereka wajib memeluk Islam. Jika mereka bersyahadat dan memeluk Islam, maka kebaikannya sebelum Islam akan dihitung dan dosanya akan dihapus. Tetapi sebaliknya kalau mereka menolak Islam atau murtad dari Islam, maka kebaikannya ketika Islam akan dihapuskan dan dosanya akan ditimpakan kepada dirinya akibat kemurtadannya.

Jadi ayat itu bukan menganjurkan orang bebas memilih keyakinan agamanya. Sedangkan murtad dari Islam bukan suatu pilihan hidup tetapi suatu kesalahan hidup yang fatal dan berakibat pada hukuman qishash. Islam sudah menarik garis tegas bagi orang yang murtad menjadi Nasrani, baca surat Maryam ayat 88-91 dan surat Al-Maidah ayat 73-74. Jadi sesungguhnya film “?” yang anda sutradarai itu jelas untuk menipu dan menjurumuskan manusia kedalam kesesatan, seperti disebutkan dalam surat Al An’am ayat 112. Hanya temannya syetan yang menjerumuskan manusia kedalam kesesatan. Jadi anda itu temannya syetan, karena ingin menjerumuskan manusia kedalam kesesatan.

Kalau dalam film berkualitas sampah itu anda mengatakan tidak mendukung pemurtadan, jelas itu suatu kebohongan. Pertama, pada film itu akhirnya Abi dan kedua orang tua Rika menerima kembali kehadirannya meski telah menjadi Katolik. Kedua, anda menggambarkan setelah murtad dan menjadi aktivis Gereja, ternyata hidup Rika lebih bahagia daripada ketika masih menjadi muslimah.

Apalagi dikatakan Rika telah melakukan perubahan besar dalam kehidupannya, seolah-olah menuju kehidupan yang lebih baik. Kalau anda mengatakan Abi menghargai pilihan Rika untuk murtad, betapa jumudnya pemikiran anda. Masak pilihan untuk menjadi murtad kok dihargai. Tidak menutup kemungkinan kalau pilihan itu dibiarkan, Abi yang masih kecil dan tak tahu apa-apa itu bisa saja menjadi Katolik mengikuti agama baru ibunya karena dialah yang mengasuh sehari-harinya.

Lain halnya kalau Abi ikut kakeknya. Lebih menggelikan lagi, anda mengatakan orang tua Rika mengambil sikap bijaksana sebagai seorang muslim dengan anaknya menjadi Katolik. Demikian itu bukan sikap bijaksana bung, tetapi sikap keterlaluan karena membiarkan anaknya masuk Neraka. Baca tafsir surat At Tahrim ayat 6.

Ketiga, film itu mendorong penonton untuk membenci poligami dan menyetujui pemurtadan sebagai sebuah pilihan hidup. Padahal dalam Syariah Islam, poligami dibolehkan hingga empat istri dan hukuman bagi seorang murtad tidak lain adalah qishash (hukuman mati). Berarti dengan tegas anda menolak Syariah Islam.

Anda ingin membela diri kalau restoran babi pak Tan semuanya sudah dipisahkan, antara memasak babi dan ayam serta bebek. Tetapi disitu anda jelas lebih mendukung masakan babi yang haram daripada ayam atau bebek yang halal. Terbukti anda mengejek masakan halal itu dengan kata-kata: “babi rasanya gurih tanpa banyak bumbu”, seperti yang dikatakan pak Tan.

Bahkan juga dikampanyekan betapa nikmatnya makan daging babi daripada ayam atau bebek yang harus banyak bumbunya supaya menjadi nikmat. Tetapi kalau babi tidak perlu bumbu sudah nikmat sekali. Apa ini tidak berarti anda secara tidak langsung menyarankan agar umat Islam tidak perlu ragu-ragu lagi makan daging babi yang nikmat dan gurih meski haram ! Maklumlah anda masih keturunan Cina !

Adapun yang lebih konyol lagi adalah si Menuk yang muslimah sholat disamping onggokan daging babi yang haram bahkan kiblatnya sengaja dihadapkan ke altar pemujaan agama Konghuchu yang penuh dengan dupa dan patung-patung dewa. Padahal itulah yang dilakukan Menuk setiap harinya ketika bekerja di restoran pak Tan.

Apakah itu bukan penghinaan ketika sholat menghadap Allah SWT sementara didekatnya ada onggokan daging babi dan kiblatnya sengaja dihadapkan ke altar pemujaan Konghuchu. Sebelumnya anda telah menghina Allah SWT dengan kalimat suci Asmaul Husna dibacakan dengan nada sinis dan ekspresi mengejek oleh seorang Pastor di Gereja.

Wartawan SI (16 April jam 7:33):

Keempat, lebih tragis lagi penghinaan anda terhadap Islam. Bayangkan, Masjid sebagai tempat suci anda gunakan untuk latihan memerankan Yesus yang akan dilakukan Surya, hal ini menunjukkan anda telah menodai kesucian Masjid. Apalagi Surya sebagai seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Padahal masuk Gereja diharamkan bagi seorang muslim, apalagi memerankan Yesus didalam gereja.

Anda perlu membaca sejarah Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khattab yang menolak masuk ke Gereja Suci di Baitul Maqdis (Yerusallem) setelah Kota Suci itu ditaklukkan pasukan Islam secara damai tanpa setetes darahpun tumpah pada tahun 16 Hijriyyah.

Kelima, penyerbuan rumah makan Cina oleh umat Islam pada hari kedua lebaran barangkali baru pertama kali ini terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Kalau biasanya peristiwa itu terjadi pada bulan puasa, dimana pada siang hari restoran atau warung makan tetap buka, itupun jarang sekali terjadi. Lha ini justru terjadi pada hari lebaran apalagi terhadap restoran Cina.

Hal ini menunjukkan anda akan mengirimg opini agar umat Islam tidak segan-segan melakukan tindakan anarkhis terhadap orang Cina meski hari lebaran sekalipun. Sudah jelas anda ingin mencoba mendorong terjadinya konflik horisontal di negara ini.

Keenam, tidak hanya menghina kesucian Islam, anda juga mencoba melecehkan Banser sebagai salah satu organ NU. Masak menjadi Banser sebagai pekerjaan atau tempat penampungan para pengangguran, seperti yang dikatakan Sholeh kepada Menuk. Lebih tragis lagi, Banser kok sampai bunuh diri hanya karena supaya lebih berarti dimata istrinya. Apalagi sebelum bunuh diri dengan memeluk bom, terlebih dahulu Sholeh berteriak laa illaha illallah, apa ini bukan penghinaan !!! Padahal bunuh diri hukumannya langsung masuk Neraka.

Kalau dalam analisis politik saya, anda tampaknya ingin membenturkan antara Banser NU dan Kokam (Komando Keamanan Muhammadiyah). Logikanya, anda baru saja mensutradarai film “Sang Pencerah” dan dimana-mana anda berkoar-koar menjadi keluarga besar Muhammadiyah. Dengan sendirinya, nanti kalau anggota Banser memburu anda karena dianggap telah menghinanya, anda akan kabur dengan meminta perlindungan pada Kokam dari buruan Banser karena anda merasa telah berjasa membuat film “Sang Pencerah”, apalagi anda selalu mengaku dari keluarga besar Muhammadiyah.

Dengan sendirinya akan terjadi konflik horizontal antara Banser vs Kokam. Apakah itu yang anda kehendaki ? Adapun yang saya dengar, sekarang para anggota Banser sudah mulai marah dengan penghinaan tersebut. Semoga saja Kokam tidak terpancing untuk membela, biar anda sendirian menghadapi Banser.

Ketujuh, kalau anda menyatakan mengapa umat Islam protes ketika KH Ahmad Dahlan dimainkan seorang murtad, sementara tidak satupun orang Kristen protes ketika Yesus dimainkan oleh figuran seperti Surya yang beragama Islam, hal itu menunjukkan kepicikan pengetahuan anda tentang Islam.

Hal itu menunjukkan anda menyamakan semua agama alias pendukung pluralisme, sehingga ketika simbol agama atau tokohnya dilecehkan tidak perlu protes. Lha itulah perbedaan antara Islam dan Kristen, bung. Kalau umat Islam protes karena tokohnya anda lecehkan, itu hak umat Islam. Kalau orang Kristen tidak protes meskipun Yesus diperankan figuran seperti Surya yang muslim, ya itu hak orang Kristen. Tetapi yang jelas anda telah merendahkan maratabat tokoh Islam karena diperankan oleh seorang murtad.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin bertanya dan jawablah dengan sejujur-jujurnya. Kalau anda berani menjawab berarti gentleman, tetapi kalau tidak berarti pengecut.

Pertama, ide pembuatan film “?” dari siapa, sehingga anda bersedia menjadi sutradaranya ?

Kedua, siapa yang membiayai pembuatan film “?” yang katanya sampai menghabiskan Rp 5 miliar itu ?

Ketiga, siapa dalang sesungguhnya dibelakang film “?” ?

Keempat, sebagai sutradara berpengalaman, mengapa anda berani mengabaikan empat pilar utama dalam sebuah film yang bagus yakni mengedepankan etika, moral, agama dan sosial. Apa yang mendorong anda bertindak nekat seperti itu ?

Kelima, mengapa anda berani mengorbankan idealisme dan intergritas sebagai seorang sutradara demi sebuah film berkualitas sampah ini ?

Keenam, mengapa mayoritas film anda selalu bertemakan penghinaan terhadap ajaran Islam, umat Islam dan institusi Islam ?

Hingga perdebatan ini dibuat, Hanung Bramantyo belum memberi tanggapannya.

30
Aug
11

Perdebatan Film “?” Part 1

Inilah Perdebatan Hanung Bramantyo dengan Abdul Halim (wartawan Suara Islam/SI) Via Facebook Terkait Film “?”

Wartawan SI (09 April jam 5:42):

Film terbaru anda keterlaluan. Film semacam itu hanya bisa dibuat oleh orang berfaham atheis atau hatinya dipenuhi dengan kebencian terhadap syariat Islam. Anda takabur dan besar kepala, ingin mencoba kesabaran umat Islam Indonesia. Semoga Allah SWT membalas dengan balasan setimpal atas kejahatan anda selama ini terhadap umat Islam.

Hanung Bramantyo Anugroho (09 April jam 15:16):

Bagian mana yg anda anggap keterlaluan? Jangan2 anda belom menonton secara keseluruhan lalu berkomentar dan menuduh saya tidak beriman. Sesungguhnya dg anda menuduh sprt itu, sikap anda yg keterlaluan:)

Wartawan SI (10 April jam 6:32):

Saya termasuk pemerhati film-film anda, sejak Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah dan terakhir ?, bahkan film film anda sebelum PBS. Disitu saya rasakan banyak nuansa PKI alias marxismenya. Hanya sang pencerah yang saya nilai 5 karena aktornya seorang murtad. Seandainya bukan seorang murtad, akan saya nilai 6. Masak tokoh sebesar KH Ahmad Dahlan diperankan seorang murtad, apa tidak ada aktor lain, apa itu bukan penghinaan! Lainnya saya nilai 2 alias sangat sangat sangat jelek sekali karena menghina Islam dan umat Islam. Makanya Taufiq Ismail tidak pernah mau ketemu dengan anda. Saya sendiri seorang wartawan di Jkt dan pernah wawancara dengan Taufiq Ismail tentang film anda !

Anda menuduh sikap saya keterlaluan, kalaupun benar saya hanya keterlaluan kepada diri anda sendiri. Tetapi yang jelas anda sudah keterlaluan dan menghina serta merendahkan martabat Islam dan umat Islam. Seandainya anda tinggal di Pakistan, Afghaniustan atau Bangladesh, saya tidak tahu lagi bagaimana nasib anda. Anda pasti sudah kabur ke luar negeri. Untung anda tinggal di bumi Indonesia yang rakyatnya terkenal dengan keramah tamahan dan santunannya.

Tetapi yang jelas, saya tidak pernah menuduh anda tidak beriman. Kalimat mana yang mengatakan anda tidak beriman. Masak sebagai sutradara film kok tidak teliti, makanya film-filmnya tidak bermutu dan penuh dengan fitnah dan kebencian terhadap Islam dan umat Islam.

Hanung Bramantyo Anugroho (12 April jam 23:51):

Jawab dulu pertanyaan saya, bung. Bagian mana yg merendahkan Islam?

Wartawan SI (13 April jam 5:36):

Film “?” yang anda sutradarai penuh dengan fitnah, kebencian dan merendahkan martabat Islam dan umat Islam. Film anda penuh dengan ajaran sesat pluralisme yang menjadi saudara kandung atheisme dan kemusyrikan.

Pertama, ketika pembukaan sudah menampilkan adegan penusukan terhadap pendeta, kemudian bagian akhir pengeboman terhadap Gereja. Jelas secara tersirat dan tersurat, anda menuduh pelakunya orang yang beragama Islam dan umat Islam identik dengan kekerasan dan teroris.

Kedua, menjadi murtad yang dilakukan oleh Endhita (Rika) adalah suatu pilihan hidup. Kalau semula kedua orangtua dan anaknya menentangnya, akhirnya mereka setuju. Padahal dalam Islam murtad adalah suatu perkara yang besar dimana hukumannya adalah qishash (hukuman mati), sama dengan zina yang dirajam.

Ketiga, muslimah berjilbab, Menuk (Revalina S Temat) yang merasa nyaman bekerja di restoran Cina milik Tan Kat Sun (Hengki Sulaiman) yang ada masakan babinya. Anda ingin menggambarkan seolah-olah babi itu halal. Terbukti pada bulan puasa sepi, berarti restoran itu para pelanggannya umat Islam.

Keempat, seorang takmir masjid yang diperankan Surya (Agus Kuncoro) setelah dibujuk si murtadin Menuk, akhirnya bersedia berperan sebagai Yesus di Gereja pada perayaan Paskah. Apalagi itu dijalaninya setelah dia berkonsultasi dengan ustad muda yang berfikiran sesat menyesatkan pluralisme seperti anda yang diperakan David Chalik.

Namun anehnya, setelah berperan menjadi Yesus demi mengejar bayaran tinggi, langsung membaca Surat Al Ikhlas di Masjid. Padahal Surat Al Ikhlas dengan tegas menolak konsep Allah mempunyai anak dan mengajarkan Tauhid. Apa anda ini kurang waras wahai si Hanung. Semoga pembalasan dari Allah atas diri anda.

Kelima, tampaknya anda memang sudah gila, masak pada hari raya Idul Fitri yang pebuh dengan silaturahmi dan maaf memaafkan, umat Islam melakukan penyerbuan dengan tindakan anarkhis terhadap restoran Cina yang tetap buka sehari setelah Lebaran. Bahkan sebagai akibat dari penyerbuan itu, akhirnya si pemilik Tan Kat Sun meninggal dunia.

Setelah itu anaknya Ping Hen (Rio Dewanto) sadar dan masuk Islam demi menikahi Menuk setelah menjadi janda karena ditinggal mati suaminya Soleh (Reza Rahadian), seorang Banser yang tewas terkena bom setelah menjaga Gereja pada hari Natal. Jadi orang menjadi muslim niatnya untuk menikahi gadis cantik. Sebagaimana anda menjadi sutradara berfaham Sepilis dengan kejam menceraikan istri yang telah melahirkan satu anak demi untuk menikahi gadis cantik yang jadi pesinetron. Film ini kok seperti kehidupan anda sendiri ya ?

Keenam, si murtadin Endhita minta cerai gara-gara suaminya poligami. Karena dendam, kemudian dia menjadi murtad. Anda ingin mengajak penonton agar membenci poligami dan membolehkan murtad. Padahal Islam membolehkan poligami dan dibatasi hingga empat istri dan melarang dengan keras murtad dengan ancaman hukuman qishash.

Seandainya anda setuju dan poligami dengan menikahi si pesinetron itu, anda tidak perlu menceraikan istri dan menelantarkan anak anda sendiri sehingga tanpa kasih sayang seorang ayah kandung dan dengan masa depan yang suram. Kasihan benar anak dan istri anda korban dari seorang ayah yang kejam penganut faham pluralisme dan anti poligami.

Ketujuh, anda menghina Allah SWT dengan bacaan Asmaul Husna di Gereja dan dibacakan seorang pendeta (Deddy Sutomo) dengan nada sinis dan melecehkan. Masya’ Allah !

Kedelapan, anda menfitnah Islam sebagai agama penindas dan umat Islam sebagai umat yang kejam dan anti toleransi terhadap umat lain terutama Kristen dan Cina. Padahal sesungguhnya meski mayorits mutlak, umat Islam Indonesia dalam kondisi tertindas oleh Kristen dan Katolik serta China yang menguasai politik, ekonomi dan media massa.

Anda tidak melihat kondisi umat Islam di negara lain yang minoritas seperti Filipina Selatan, Thailand Selatan, Myanmar, India, Cina, Asia Tengah, bahkan Eropa dan AS. Mereka sekarang dalam kondisi tertindas oleh mayoritas Kristen dan Katolik, Hindu, Budha dan Komunis. Jadi anda benar-benar subyektif dan dipenuhi dengaan hati penuh dendam terhadap umat Islam.

Kesembilan, film ini mengajarkan kemusyrikan dimana semua agama itu pada hakekatnya sama untuk menuju tuhan yang sama. Kalau semua agama itu sama, maka orang tidak perlu beragama. Jadi film anda ini dengan sangat jelas mengajarkan faham atheisme dan komunisme.

Terakhir, nasehat saya, bertobatlah segera sebelum azab Allah SWT menimpa anda, karena hidup di dunia ini hanya sementara dan tidak abadi. Belajarlah kembali mengenai Islam yang benar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah, bukan Islam yang diambil dari kaum Orientalis Barat dan para sineas berfaham sepilis yang sudah sangat jelas memusuhi Islam dan umat Islam. (*)

Hanung Bramantyo Anugroho (14 April jam 1:33):

Terima kasih sudah menyaksikan film saya sekaligus mengkritik film tersebut. Saya sangat menghargai pandangan anda. Sebagai sebuah tafsir atas ‘teks’ saya anggap itu syah. Namun sayangnya, anda tidak memberikan kemerdekaan bagi yang menafsir ‘teks’ film tersebut dalam makna lain. Anda sudah terlanjur melakukan judgment berdasarkan ‘teks’ yg anda baca dan tafsirkan.

Disini, saya akan mengajak anda untuk menafsir ‘teks’ film dalam kerangka berfikir yang lain. Tidak untuk menandingi, tapi untuk mengajak anda melihat tafsir dalam kerangka berfikir yang berbeda.

1. A. Anda mengatakan bahwa adegan kekerasan: penusukan pastur dan pengeboman dilakukan oleh orang Islam. Padahal dalam dua adegan tersebut saya sama sekali tidak menampilkan orang Islam (setidaknya orang berbaju putih-putih, bersorban atau berkopyah). Di adegan penusukan pastur, saya menampilkan seorang lelaki berjaket coklat memegang pisau dan seorang pengendara motor. Kalau itu ditafsir orang Islam, itu semata-mata tafsir anda.

B. Di awal Film saya justru menampilkan sekelompok remaja masjid (bukan orang tua) yang melakukan perawatan atas masjid. Bukankah dalam hadist dianjurkan seorang pemuda menghabiskan waktunya untuk mengelola dan merawat masjid? Apakah saya menampilkan seorang pemuda Islam sembahyang atau merawat gereja? atau pemuda gereja, pastur sembahyang di masjid? Jadi tafsir atas pencampur adukan ajaran agama bukan tafsir saya.

2. Rika Murtad

Bahwa tafsir Rika murtad karena sakit hati dengan suaminya yang mengajak poligami saya benarkan. Tapi bukan berarti ‘teks’ tersebut mendukung poligami. Sejak awal keputusan Rika sudah ditentang oleh Surya, anaknya dan orang tuanya. Bagian mana yang menyatakan dukungan?

Coba perhatikan shotnya: Surya berdialog dengan Rika: Kamu menghianati 2 hal sekaligus: perkawinan dan Allah! kalau toh disitu Surya diam saja ketika Rika menyanggahnya, bukan berarti Surya mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan Rika. Hal itu tertera dalam surat Al Hajj ayat 7 : ‘Sesungguhnya orang yang beriman, kaum Nasrani, Shaabi-iin, Majusi dan orang Musyrik, Allah akan memberikan keputusan diantara mereka pada hari Kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu’

Sikap Surya juga merupakan cerminan dari firman Allah : ‘Engkau (Muhammad) tidak diutus dengan mandat memaksa mereka beragama, tapi mengutus engkau untuk MEMBERI KABAR GEMBIRA yang orang mengakui kebenaran Islam dan kabar buruk dan ancaman bagi yang mengingkarinya.’

Abi, anak Rika, juga tidak mendukung sikap Rika ‘yang Berubah’. Abi protes dengan ibunya dengan cara enggan bicara. Bahkan hanya sekedar minum susu dikala pagi saja Abi tidak mau menghabiskan di depan ibunya. Demikian halnya Abi juga tidak mau makan sarapan yang disajikan ibunya. Itu adalah sikap protes dia kepada sang Ibu yang murtad.

Jika toh Abi kemudian bersikap seperti Surya, bukan berarti abi mendukungnya. Tapi sikap menghargai pilihan. Lihat dialog Abi saat bersama Rika: … Kata Pak Ustadz, orang islam gak boleh marah lebih dari tiga hari. Apakah dialog tersebut diartikan mendukung kemurtadan? Bukankah makna dari dialog tersebut adalah mencerminkan sikap orang muslim yang murah hati: Pemaaf dan bijaksana (jika marah tidak boleh lebih dari tiga hari).

Sikap murah hati juga ditunjukkan orang tua Rika pada adegan terakhir. Orang Tua Rika datang pada saat acara Syukuran Khatam Quran Abi. Coba perhatikan shot tersebut: Adakah dialog atau gesture yang menyatakan dukungan atas kemurtadan Rika? Dalam shot tersebut saya menggambarkan Rika menghambur memeluk ibunya dengan erat. Sementara ayahnya hanya diam, menggandeng Abi. Adegan tersebut sama sekali tidak menyajikan ‘teks’ dukungan atas kemurtadan. Tapi hubungan emosional antara ibu dan anak. Lagi-lagi saya menggambarkan sikap bijaksana seorang muslim sebagaimana firman Allah dalam quran sebagaimana diatas tadi.

Jadi jika anda membaca ‘teks’ dalam adegan tersebut sebagai sebuah dukungan terhadap kemurtadan, maka itu tafsir anda. Bukan saya …

3. Menuk adalah perempuan muslimah. Dia nyaman bekerja di tempat pak Tan karena pak Tan adalah orang yang baik. Selalu mengingatkan karyawan muslimnya sholat. Bagian mana yang anda maksud bahwa babi itu halal?

Saya menggambarkan adegan yang membedakan Babi dan bukan babi lebih dari sekali adegan. Pertama, pada saat Pembeli berjilbab bertanya soal menu makanan restoran pak Tan. Menuk mengatakan bahwa panci dan wajan yang dipakai buat memasak babi berbeda dengan yang bukan babi. (di film terdapat shot wajan, dan shot Menuk yang dialog dengan ibu berjilbab. Dialog agak kepotong karena LSF memotongnya. Alasannya silakan tanyakan kepada LSF)

Kedua, pada saat Pak Tan mengajari Ping Hen (anaknya) mengelola restoran. Pak Tan dengan tegas menyatakan pembedaan antara babi dan bukan babi: … Ini sodet dengan tanda merah buat babi, dan yang tidak ada tanda merah bukan babi …

Jika saya menghalalkan Babi, tentunya saya tidak akan menggambarkan pemisahan yang tegas antara sodet, panci, pisau, dsb tersebut. Jadi tafsir anda yang mengatakan bahwa saya menghalalkan babi, semata-mata bukan tafsir saya …

Saya justru menggambarkan sikap Menuk sebagai Muslimah yang menolak pernikahan beda agama dengan cara lebih memilih menikah dengan soleh (yang muslim) meski jobless, dibanding hendra. Padahal cintanya kepada hendra: … Saya tahu kita pernah punya kisah yang mungkin buat mas menyakitkan. Tapi buat saya adalah hal yang indah … karena Tuhan mengajarkan arti cinta dalam agama yang berbeda … (Dialog Menuk kepada Hendra di malam Ramadhan)

Saya juga menggambarkan sikap pak Tan yang menghargai Islam dengan cara meminta buku Asmaul Husna milik Menuk. Dan di akhir adegan, Pak Tan membisikkan sesuatu kepada Hendra yang mana kemudian Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya: menjadi Mualaf dan merobah restorannya menjadi Halal. Lihat kata-kata isteri pak Tan di akhir film: … Pi, hari ini Hendra melakukan perubahan besar dalam hidupnya SEPERTI YANG PAPI MINTA …. (Dialog tersebut sebenarnya ungkapan dari pak Tan secara tersirat kepada “Hendra untuk berubah” )

Jadi tafsir Hendra pindah agama hanya ingin menikahi menuk adalah Tafsir anda.

Lagipula, dalam film jelas-jelas tidak ada gambaran pernikahan antara Menuk dan Hendra. Ending Film saya justru menggambarkan Menuk menatap nama Soleh yang sudah menjadi nama Pasar … Darimana anda bisa menafsirkan bahwa Hendra pindah agama hanya karena ingin menikah sama menuk?

4. Surya adalah seorang aktor figuran. Di awal Film dikatakan dengan tegas lewat dialog: … 10 tahun saya menjadi aktor cuma jadi figuran doang!!

Sebagai aktor yang selalui hanya jadi figuran, dia frustasi. Hingga menganggap bahwa hidupnya cuma sekedar numpang lewat. Dia diusir dari kontrakan karena menunggak bayar. Rika membantunya dengan menawari pekerjaan sebagai Yesus dengan biaya Mahal (perhatikan dialognya di warung soto). Semula Surya menolak. Tapi dia menerima hanya karena selama hidupnya dia tidak pernah mendapatkan peran Jagoan …

Itu adalah alasan yang sangat manusiawi. Namun alasan itu tidak begitu saja dia gunakan untuk melegitimasi pilihannya. Dia konsultasi dengan Ustadz Wahyu (David Khalil). Menurut Ustadz, Semua itu tergantung dari HATIMU, maka JAGALAH HATIMU.

Dari perkataan David Khalik tersebut, adakah kata yang menyarankan atau mendorong Surya menjadi Yesus? David Khalik memberikan kebebasan buat Surya untuk melakukan pilihannya. Dan Surya sudah memilih. Ketika di Masjid, David Khalik mengulang bertanya: Gimana? Sudah mantap hatimu? Lalu dijawab oleh Surya: Insya Allah saya tetap Istiqomah. Dijawab oleh David Khalik: Amin …

Dari adegan tersebut, adakah saya melecehkan Islam? Apakah dengan menghargai pilihan seseorang itu sama saja melecehkan Islam?

Pada saat dialog dengan Ustad tersebut, Surya tidak langsung ke gereja. Dia melakukan tafakur di masjid dengan melihat asma Allah yang tertempel diatas dinding Mihrab. Lagi-lagi dia meyakinkan hatinya

Jadi, tidak ada sedikitpun adegan yang menyatakan pelecehan terhadap agama Islam. Surya melakukan tugasnya sebagai aktor karena dia harus hidup. Bahkan untuk beli soto untuk sarapan saja dia tidak sanggup. Lagipula drama Paskah bukan ibadah. Tapi sebuah pertunjukan drama biasa. Ibadah Misa Jumat Agung dilaksanakan setelah pertunjukan Drama. Dalam hal ini Surya tidak melakukan ibadah bersama jemaah Kristiani di gereja.

Setelah melakukan pekerjaan sebagai aktor di malam Jumat Agung Surya membaca Surat Al Ikhlas berulang-ulang sambil menangis untuk menguatkan hatinya kembali sebagaimana yang disarankan Ustadz.

Adakah dari adegan tersebut saya melecehkan Islam? Silakan di cek lagi …

berlanjut …..

Hanung Bramantyo Anugroho (14 April jam 1:33):

5. Saya benar-benar kagum dengan penafsiran anda soal adegan dalam film saya. Tidak heran anda menjadi seorang wartawan. Hehehe.

Jika anda benar-benar mengamati adegan demi adegan, anda akan menemukan maksud dari penyerbuan tersebut. Pertama, Penyerbuan itu didasari karena egositas dari hendra (ping Hen) yang hanya ingin mengejar keuntungan. Maka dari itu libur lebaran yang biasanya 5 hari, dipotong hanya sehari. Akibatnya, Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan liburan lebaran.

Kedua, Soleh (yang di adegan sebelumnya bertengkar dengan Hendra karena cemburu) merasa panas hati ketika mendengar Menuk tidak bisa menemani keluarga jalan-jalan. Karena rasa cemburu berlebihan, Soleh bersama para preman pasar dan takmir masjid yang di awal adegan bertengkar dengan hendra, melakukan pengeroyokan.

Dalam adegan tersebut jelas tergambar SIKAP CEMBURU, MEMBABI BUTA, BODOH dan TERGESA-GESA pada diri Soleh yang mengakibatkan Tan Kat Sun meninggal. Sikap tersebut membuat Soleh menjadi rendah di mata Menuk: Lihat adegan selanjutnya: Menuk bersikap diam kepada Soleh. Meski masih meladeni sarapan, Menuk tetap tidak HANGAT dengan SOLEH. Hingga Soleh meminta maaf kepada Menuk. Namun, lagi-lagi Menuk tidak menanggapi dengan serius (perhatikan dialognya) : …. Mas, jangan disini ya minta maafnya. Dirumah saja …

Dijawab oleh Soleh: Kamu dirumah terlalu sibuk dengan Mutia … Menuk menimpali: … dimana saja ASAL TIDAK DISINI …

Penolakan Menuk itu yang membuat Soleh akhirnya memutuskan untuk memeluk BOM dan menghancurkan dirinya. Tujuannya, Agar dia menjadi BERARTI dimata isterinya ….

Apakah adegan di Film tersebut menggambarkan Menuk bahagia dengan kematian Soleh, sehingga dengan begitu dia bebas menikah dengan Hendra? Apakah adegan di Film menggambarkan hendra juga bahagia dengan kematian Soleh sehingga hendra bisa punya kesempatan menikah sama Menuk?

Sungguh, saya kagum dengan tafsir anda. Hingga andapun bisa bebas sekali menafsirkan hidup saya. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi lebih dekat sehingga anda bisa mengenal saya lebih baik, mas …

6. Tentang Asmaul Husna yang dibacakan Pastur Dedi Sutomo bagi saya merupakan sebuah pesan teologis dari Islam yang saya selipkan di gereja. Jika tafsir anda saya melecehkan Islam, justru saya heran. Asmaul Husna merupakan nama ALLAH yang meliputi segala yang Indah di Bumi dan Langit. Tidak ada nama Indah selain diriNya yang dimiliki agama lain.

Maka ketika Pastur Dedi Sutomo meminta Rika untuk menuliskan kesan TUHAN DIMATAMU, maka Rika kesulitan. (lihat adegannya, ketika dia kebingungan sendiri menuliskan itu). Lalu, dengan berat hati Rika menuliskan kesan TUHAN dengan menyebut rangkaian nama-nama Indah dalam Asmaul Husna … Apakah itu melecehkan Islam?

Dari diskusi ini saya menyimpulkan bahwa setiap Tafsir atas Teks FILM memiliki RUANG, WAKTU dan PERISTIWANYA sendiri. Saya sangat menghargai anda dalam melakukan tafsir. Tapi hargai pula orang yang melakukan tafsir yang berbeda dengan anda. Jika anda melihat secara jeli dan terbuka, saya justru banyak menyisipkan teologi Islam ke dalam gereja.

Lihatlah ketika adegan Jesus disalib yang dimainkan Surya. Angle kamera saya diposisi rendah dengan foreground jamaah. Adegan itu menggambarkan semua jemaah Kristen memuja Jesus. Tapi sebenarnya saya menggambarkan jamaah tersebut memuja Islam. Lalu setelah adegan tersebut saya menyelipkan ayat Al Aikhlas yang menyatakan : Tuhan itu Satu, Tidak beranak dan diperanakan …

Jujur, saya geli dengan anda dan umat Islam yang sepikiran dengan anda. Segitu protesnya anda dan umat Islam sepikiran dengan anda ketika Haji Ahmad Dahlan dimainkan oleh seorang Murtad. Tapi tidak ada satupun yang protes dari kaum Kristen ketika Jesus dimainkan oleh figuran seperti Surya. Malah anda sekarang yang protes, menuduh saya melecehkan Islam. Hehehe …

Mari kita sama-sama terbuka. Kita saudara. Sama-sama pengikut Rosululloh. Sesama Muslim saling mengingatkan. Semoga diskusi ini bisa menjadi pembelajaran kita bersama. Amin ….

22
Aug
11

Web 2.0

Pada postingan kali ini, saya akan coba membahas mengenai istilah “Web 2.0″, yang sudah saya rangkum dari berbagai sumber di Internet. Postingan ini sekaligus untuk membantu menjelaskan kepada teman saya yang pernah menanyakan arti dari istilah ini kepada saya beberapa waktu lalu, dan siapa tahu, juga bisa membantu teman-teman lain yang kebetulan berkunjung ke blog saya. Ok, saya mulai saja penjelasannya.

Web 2.0″, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi “Web 2.0″ pertama di tahun 2004, merujuk pada generasi yang dirasakan sebagai generasi kedua layanan berbasis web —seperti situs jaringan sosial (Facebook, Twitter, Google Plus), Wikipedia, perangkat komunikasi— yang menekankan pada kolaborasi online dan berbagi antar pengguna. Walaupun kelihatannya istilah ini menunjukkan versi baru daripada web, istilah ini tidak mengacu kepada pembaruan kepada spesifikasi teknis World Wide Web, tetapi lebih kepada bagaimana cara si pengembang sistem dalam menggunakan platform web, menggambarkan aplikasi-aplikasi Internet generasi baru yang merevolusi cara kita menggunakan Internet. Semua aplikasi ini membawa kita masuk ke babak baru penggunaan Internet yang berbeda dengan generasi sebelumnya pada pertengahan tahun 1990-an.

Dan jangan heran, belakangan ini banyak aplikasi Internet yang melabeli dirinya dengan “Web 2.0″. Agar tidak terkecoh, pertama-tama tentu kita harus mengerti dulu apa yang dimaksud dengan “Web 2.0″.

Nah, untuk ini ada satu artikel yang sangat bagus yaitu What is Web 2.0 karangan Tim O’Reilly. Kebetulan juga Tim O’Reilly adalah salah satu pencetus istilah “Web 2.0″. Jadi dari artikel ini kita bisa mendapatkan informasi langsung dari tangan pertama !

Secara singkat, berikut ini ciri-ciri aplikasi “Web 2.0″ (diambil dari artikel What is Web 2.0):

  1. The Web as Platform
    Aplikasi “Web 2.0″ menggunakan Web (atau Internet) sebagai platformnya. Apa sih yang dimaksud dengan platform ? Platform di sini adalah tempat suatu aplikasi dijalankan. Contoh platform yang terkenal, salah satunya adalah Windows, di mana ada aplikasi-aplikasi seperti Microsoft Office dan Adobe Photoshop. Menggunakan Internet sebagai platform berarti aplikasi-aplikasi tersebut dijalankan langsung di atas Internet dan bukan di atas satu sistem operasi tertentu. Contohnya adalah Google yang bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Contoh lainnya adalah Flickr yang juga bisa diakses dari sistem operasi mana pun.
    Kelebihannya jelas, aplikasi-aplikasi “Web 2.0″ ini tidak lagi dibatasi sistem operasi seperti pada Windows. Dan kita bahkan tidak perlu menginstall apapun untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini !
  2. Harnessing Collective Intelligence
    Aplikasi “Web 2.0″ memiliki sifat yang unik, yaitu memanfaatkan kepandaian dari banyak orang secara kolektif. Sebagai hasilnya, muncullah basis pengetahuan yang sangat besar hasil gabungan dari pengetahuan banyak orang. Contoh yang paling jelas adalah Wikipedia. Siapa yang tidak mengenal Wikipedia, situs ini adalah ensiklopedi online yang memperbolehkan semua orang untuk membuat dan mengedit artikel. Hasilnya adalah ensiklopedi online besar yang sangat lengkap artikelnya, bahkan lebih lengkap daripada ensiklopedi komersial seperti Encarta ! Contoh lainnya lagi adalah del.icio.us di mana semua orang saling berbagi link-link menarik yang mereka temukan. Akibatnya kita bisa menemukan “permata-permata” di Web gabungan hasil browsing dari ribuan orang. Blogosphere juga merupakan contoh kepandaian kolektif karena setiap orang bisa menulis blog-nya sendiri-sendiri lalu saling link satu sama lain untuk membentuk jaringan pengetahuan, mirip seperti sel-sel otak yang saling terkait satu sama lain di dalam otak kita.
  3. Data is the Next Intel Inside
    Kekuatan aplikasi “Web 2.0″ terletak pada data. Aplikasi-aplikasi Internet yang berhasil selalu didukung oleh basis data yang kuat dan unik. Contohnya adalah Google, yang kekuatannya terletak pada pengumpulan dan manajemen data halaman-halaman Web di Internet. Contoh lainnya lagi adalah Amazon yang memiliki data buku yang bukan hanya lengkap, tapi juga sangat kaya dengan hal-hal seperti review, rating pengguna, link ke buku-buku lain, dan sebagainya. Ini berarti perusahaan yang unggul adalah perusahaan yang menguasai data.
  4. End of the Software Release Cycle
    Aplikasi “Web 2.0″ memiliki sifat yang berbeda dengan aplikasi pada platform “lama” seperti Windows. Suatu aplikasi Windows biasanya dirilis setiap dua atau tiga tahun sekali, misalnya saja Microsoft Office yang memiliki versi 97, 2000, XP, dan 2003. Di lain pihak, aplikasi “Web 2.0″ selalu di-update terus-menerus karena sifatnya yang bukan lagi produk melainkan layanan. Google misalnya, selalu di-update data dan programnya tanpa perlu menunggu waktu-waktu tertentu.
  5. Lightweight Programming Models
    Aplikasi “Web 2.0″ menggunakan teknik-teknik pemrograman yang “ringan” seperti AJAX (Asynchronous JavaScript and XMLHTTP) dan RSS (RDF Site Summary). Ini memudahkan orang lain untuk memakai ulang layanan suatu aplikasi “Web 2.0″ guna membentuk layanan baru. Contohnya adalah Google Maps yang dengan mudah dapat digunakan orang lain untuk membentuk layanan baru. Sebagai hasilnya muncullah layanan-layanan seperti HousingMaps yang menggabungkan layanan Google Maps dengan Craigslist. Layanan seperti ini, yang menggabungkan layanan dari aplikasi-aplikasi lainnya, dikenal dengan istilah mashup.
  6. Software Above the Level of a Single Device
    Aplikasi “Web 2.0″ bisa berjalan secara terintegrasi melalui berbagai device. Contohnya adalah iTunes dari Apple yang berjalan secara terintegrasi mulai dari server Internet (dalam bentuk toko musik online), ke komputer pengguna (dalam bentuk program iTunes), sampai ke mobile device (dalam bentuk iPod). Di masa depan diperkirakan akan makin banyak aplikasi-aplikasi yang memiliki sifat ini, misalnya saja demo Bill Gates di Consumer Electronic Show 2006 menunjukkan integrasi antar device yang luar biasa (video presentasi Bill Gates di Consumer Electronic Show 2006).
  7. Rich User Experiences
    Aplikasi “Web 2.0″ memiliki user interface yang kaya meskipun berjalan di dalam browser. Teknologi seperti AJAX memungkinkan aplikasi Internet memiliki waktu respons yang cepat dan user interface yang intuitif mirip seperti aplikasi Windows yang di-install di komputer kita. Contohnya adalah Gmail, aplikasi email dari Google yang memiliki user interface revolusioner. Contoh lainnya lagi adalah Google Maps yang meskipun berjalan dalam browser namun bisa memberikan respons yang cepat saat pengguna menjelajahi peta.

Apakah suatu aplikasi harus memiliki ketujuh ciri-ciri ini untuk bisa disebut “Web 2.0″ ? Jawabannya adalah tidak. Namun semakin banyak ciri-ciri yang dimiliki berarti aplikasi itu semakin “Web 2.0″ ! Dan satu hal lagi, meskipun contoh-contoh yang diberikan di atas banyak berasal dari keluarga Google, tapi sebenarnya masih banyak aplikasi “Web 2.0″ yang lain. Di kesempatan lainnya, kita akan melihat contoh aplikasi-aplikasi “Web 2.0″ yang sedang berkembang saat ini.

30
Mar
11

Persepsi yang Berbeda

Dahulu kala ada dua orang kakak beradik. Sebelum ayahnya meninggal, ia berpesan tentang dua hal :

1. jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu.
2. jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai muka mereka terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus dan kenyataanpun terjadi bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal, anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu :”Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar, sementara aku tidak boleh menagihnya. Juga ayah berpesan supaya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja sudah cukup, tetapi karena pesan ayah demikian pengeluaranku bertambah besar.”

Kepada anak yang sulung, yang bertambah kaya itu, ibu merekapun menanyakan hal yang sama. Jawab anak sulung: “Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal saya tidak susut. Juga ayah berpesan kalau berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku jadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama.

******************************************

Kisah tadi menunjukkan bagaimana sebuah kalimat ditanggapi dengan PERSEPSI YANG BERBEDA : jika kita melihat dengan “POSITIVE ATTITUDE” maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses.

“Berusahalah melakukan hal biasa secara luar biasa”

18
Jan
11

Manusia Goa

Suatu hari, hiduplah seorang manusia di dalam goa yang sangat gelap. Gelap secara literal, nggak ada cahaya apa pun di dalam goa itu. Manusia ini nggak pernah liat cahaya sekali pun. Dari lahir. Tapi hidupnya bahagia. Nggak ada alasan baginya untuk nggak bahagia. Sejalan dengan : “You never miss what you never have”, manusia ini nggak pernah merindukan cahaya, karena ya, emang nggak pernah tau apa itu cahaya. Dunianya berubah ketika suatu saat…

…ia menemukan sekotak korek api.
Pertemuannya dengan korek api adalah pengalaman pertamanya dengan cahaya. It fascinates him a lot! Dalam sekejap ia yakin dalam hatinya, “Korek api adalah cahaya paling terang dalam hidupku” dan ia jatuh cinta padanya. Api-api korek tersebut nyaris nggak bisa dipake buat nerangin apa pun. Tapi buatnya cahaya tersebut adalah yang paling terang dalam hidupnya.

But it doesnt last long. Setiap saat ia ingin korek api bercahaya, semakin sedikit jumlah batang yang tersisa. Dan bila ia ingin korek api bercahaya lebih terang, ia harus menggunakan lebih dari satu batang korek api. Tak lama kemudian cahaya tersebut habis dan ia kembali ke dalam kegelapannya. Kegelapan yang sama yang dulu ia jalani selama bertahun-tahun. Tapi kegelapan kali ini rasanya beda. Rasanya…

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Hari-hari kini berlalu dengan rasa benci.
“Kenapa korek api harus hadir dalam hidup gue?”
“Kenapa nggak biarin gue sendirian dalam kegelapan gue?”
“Kenapa kasih gue cahaya kalo cuma sesingkat itu?”

Until one day dia bertemu dengan lilin. Lilin lebih terang dari korek. Lilin bertahan jauh lebih lama dibanding korek. Dalam sekejap ia jatuh cinta pada lilin, cahaya paling terang dalam hidupnya.

Suatu hari ia berpikir, “Aku ingin lebih dekat lagi dengan lilin!” Maka ia membawa lilin berjalan-jalan ke dalam goanya. Tapi di tengah perjalanan, ia terkena tetesan cairan lilin yang panas sehingga kulitnya terluka. Ia marah. Ia kecewa. Manusia ini nggak bisa terima kenyataan bahwa memang begitulah sifat lilin. Dan ia pergi meninggalkan lilin tersebut. Kembali ke kegelapannya.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Hari-hari kini kembali berlalu dengan rasa benci.
“Kenapa lilin harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya kalo cuma buat sakitin gue?”

Hari-hari tersebut berakhir begitu ia bertemu dengan sebuah cahaya yang jauh lebih terang, sebuah obor. Obor lebih terang dari lilin. Obor bertahan jauh lebih lama dibanding lilin. Obor jauh lebih mudah dibawa-bawa dibanding lilin. Dan kali ini ia sudah belajar menerima sifat panas obor tersebut. Dalam sekejap ia jatuh cinta pada obor, cahaya paling terang dalam hidupnya.

Tapi lama-kelamaan cahaya obor semakin meredup. Obor butuh minyak untuk bisa tetap menyala terang. Jika tidak ada minyak yang bisa dibakar, maka kain dan kayunya sendirilah yang akan terbakar. Manusia ini tidak bisa terima kenyataan bahwa obor butuh minyak untuk bercahaya. Maka lalu ia pergi meninggalkan obor tersebut. Kembali ke kegelapannya.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Kembali ditemani rasa benci yang mulai terasa familiar.
“Kenapa obor harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya kalo akhirannya minta minyak sebagai balasan?”
“Cahaya itu hak semua orang! Hak gue! Sewajarnya kalo obor kasih gue cahaya.”
“Gue nggak butuh cahaya yang nggak tulus kayak gitu.”
Dan ia mengutuk setiap cahaya yang pernah datang dalam hidupnya.

“Adakah cahaya yang sejati dalam dunia ini?”

Ia pikir jawabannya tiba saat ia bertemu dengan sebuah cahaya yang luar biasa, sebuah api unggun. Api unggun jauh lebih besar dan terang dari semua yang pernah ia temui. Api unggun jauh lebih hangat dari semua yang pernah ia temui. Seisi goa terang dan hangat karena kehadirannya. Kali ini ia mengerti dan rela memberikan kayu agar api unggun bisa bercahaya lebih terang. Begitu banyak manusia goa lain berkumpul di sekitarnya dan mereka semua mendapat cahaya dan kehangatan yang sama persis – sama rata, tidak perduli di sebelah mana mereka duduk.

Ia jatuh cinta. “Inilah cahaya paling terang dan hangat dalam hidupku. Akhir dari pencarianku. Nggak mungkin ada yang lebih terang dari ini.” Ia menginginkan api unggun untuk dirinya sendiri. Ia ingin membawa api unggun masuk ke dalam goanya sendiri tapi api unggun tak ingin beranjak. Ia ingin menikmati api unggun sendiri, tapi manusia goa lainnya terlalu banyak untuk ia usir. Ia kelelahan dan akhirnya menyerah. Kembali ke kegelapan.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Kembali ditemani rasa benci yang kini sangat familiar.
“Kenapa api unggun harus hadir dalam hidup gue?”
“Buat apa dia kasih gue cahaya sebesar itu buat gue?”
“Kenapa dia harus sehangat itu sama gue?”
“Bukannya itu namanya memberi harapan? Ke banyak orang?”
“Gue juga butuh cahaya, gue butuh diperhatiin! Gue! Gue! Orang lain nggak usah karena hidup mereka lebih bahagia dari gue. GUE!”
Dan ia mengutuk setiap cahaya yang pernah datang dalam hidupnya. Plus setiap manusia gua yang dulu ikut mengerubungi api unggun bersamanya.

Kali ini hari-hari tanpa cahaya lebih panjang dari sebelumnya. Banyak cahaya mampir dalam kehidupannya tapi ia membuang mereka semua karena : cahaya-cahaya itu bukan cahaya yang paling terang dalam hidupnya. “Di mana cahaya paling terang dalam hidupku?” hanya itu yang ia tanyakan setiap hari. Suatu hari ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang radikal, yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, sesuatu yang sangat ia benci dari dulu. Karena pikirnya, hidup gue udah berantakan, nggak mungkin bisa lebih berantakan lagi, jadi nggak ada salahnya.

Ia… keluar dari goanya.

Betapa ia terperanjat dan jantungnya berdegup kencang saat untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat cahaya yang baru. Semua manusia menikmati cahaya ini! Yang sangat terang! Yang sangat hangat! Yang berlangsung berjam-jam! Yang tidak menyakiti dirinya! Tanpa perlu minyak! Tak perlu dibawa ke mana-mana karena cahaya itu ada di mana-mana! Tidak ada yang membahas apakah cahayaku lebih terang dari cahayamu. Dan tidak ada yang memperebutkan cahaya itu karena semua menerimanya.

Cahaya itu adalah matahari.

Matahari sangat besar. Paling besar. Ia percaya tidak ada yang lebih besar dari matahari. Matahari sangat jauh. Begitu jauhnya hingga ia tak pernah tahu bentuk matahari itu. Tapi baginya itu tak masalah, karena ia bisa rasakan cahaya dan hangatnya. Ia jatuh cinta kepada matahari. Cinta yang jauh lebih kuat dari semua cinta yang pernah ia alami. Karena matahari adalah cahaya paling terang dalam hidupnya dan ia percaya tidak ada lagi cahaya yang lebih terang darinya.

Lalu malam tiba. Kegelapan menyapanya. Perasaan yang dulu familiar mengetuk pintunya.

Sendiri.
Merudung.
Nggak bahagia.
Sepi.

Ia bertanya-tanya. Di mana cahaya itu? Yang paling besar? Yang paling hangat? Di mana? Aku tidak melihatnya! Hampir ia mengutuknya saat suatu ketika, seseorang melintas dan melihat ia meringkuk di dalam kegelapan.

Ia memberi si manusia goa sekotak korek api.

Lalu datang manusia lain memberi ia lilin. Dengan korek tadi ia menghidupkan lilin tersebut.

Lalu datang manusia lain memberi ia kain, kayu dan minyak. Dibantu cahaya lilin ia membuat obor.

Lalu datang manusia lain yang juga punya obor. Bersama-sama mereka mencari kayu di hutan. Ia lalu membuat api unggun.

Api unggunnya begitu besar, terang dan hangat. Begitu banyak orang lain yang mengutuk malam datang berkumpul mendekatinya untuk menghangatkan diri bersamanya. Dan mereka semua berbahagia. Bersama-sama mereka melewati malam yang tadi menjadi objek sumpah serapah, hingga siang tiba. Bersama-sama mereka saling belajar, saling mengajar sehingga mereka mengerti. Bahwa selalu ada siang sehabis malam dan akan selalu ada malam sehabis siang. Mereka berjanji untuk bertemu kembali di malam berikutnya, menghangatkan diri bersama-sama hingga siang kembali tiba.

Menatapi abu dan arang api unggunnya, di tengah sinar fajar, manusia goa mengerti sebuah pelajaran tentang hidupnya. Untuk menghargai cahaya yang paling redup, temukanlah dahulu cahaya yang paling terang. Untuk menghargai kehangatan yang paling kecil, temukanlah dulu kehangatan yang paling besar.

THE END

Mo tau artinya? Ini dia.

– Cahaya

Literally translated, cahaya adalah kasih. Berbagai bentuk perhatian. Cinta. Interaksi. Semua hal yang kita berikan pada orang lain. Ada cahaya yang redup, misalnya perhatian basa-basi, atau sebuah senyuman, atau sebuah hello. Ada cahaya yang sangat terang, misalnya berkorban, berjuang bersama sahabat dan empati. Bentuk cahaya yang paling terang, hanya ada satu: mati di kayu salib buat tebus dosa manusia. Nggak ada yang lebih terang dari itu.

– Kehangatan

Kehangatan adalah perasaan yang tinggal dan menumpuk karena mendapatkan kasih. Setiap hari mendapatkan hello nggak akan meninggalkan kesan apa-apa. Tapi empati yang terus menerus akan menghasilkan ikatan yang emosional.

– Korek api

Korek api adalah bentuk sikap wajar kita terhadap siapa saja. Tersenyum. Menyapa. Sesuatu yang kita lakukan tanpa pengharapan akan balasan apapun. Hal-hal yang sewajarnya kita lakukan karena orang lain memperlakukan kita sama. Perbuatan-perbuatan kecil. Tanpa relasi antar tindakan. Habis saat itu juga dan tidak meninggalkan kesan.

Tapi bagi si manusia goa yang nggak pernah mendapatkan perhatian, just a single hello baginya adalah “aku cinta padamu, maukah kau cinta padaku?” atau “jadilah sahabat karibku saat ini juga.” Saat perbuatan-perbuatan kecil kita disalah artikan demikian, biasanya kita merasa risih dan akhirnya berhenti melakukannya terhadap si manusia goa.

– Lilin

Lilin adalah bentuk interaksi yang diberikan terhadap seseorang yang bukan orang asing terhadap kita tapi belum terlalu akrab. Misalnya teman kelompok kerja, teman kuliah, teman les, satu kos. Dalam bahasa gampangya, gue memberikan perhatian “demikian” karena gue kenal dia. Itu doang. Nggak ada maksud apa-apa. Sama semua orang yang gue kenal, demikianlah perhatian gue.

Kalo interaksi hello aja bisa bikin manusia goa kepincut, apalagi bentuk interaksi yang lebih dalam. Ia kepincut, atau ingin bersahabat, lalu berusaha untuk mengenal lebih dalam, tapi akhirnya terluka dan kecewa karena sebuah sifat yang tidak ia sukai. Manusia goa tidak bisa menerima orang tersebut apa adanya karena konsep demikian baginya adalah omong kosong.

– Obor

Obor adalah bentuk interaksi dalam bentuk sahabat akrab atau lebih dari seorang teman. Ada kesan yang terus dibangun seiring waktu. Ada impresi yang tertinggal, yang terukir. Sewajarnya gue memberikan kasih demikian karena gue deket sama lu melebihi seorang teman. Dan gue memberikan porsi yang sama kepada semua orang yang levelnya sama dengen lu. Jadi gue mau pergi nonton dibayarin lu bukan karena gue naksir lu.

Tapi yang namanya persahabatan itu cara kerjanya adalah dua arah. Bukan hanya menerima, dan bukan juga hanya memberi. Bukan hanya menuntut, dan bukan juga hanya memenuhi tuntutan. Hal ini yang gagal dimengerti oleh manusia goa. Baginya persahabatan atau percintaan adalah hak dan dia nggak wajib untuk membalas. Yang penting orang mengerti dia, urusan dia mengerti orang lain itu tahun depan aja, atau abad depan waktu dia udah punya blog.

– Api unggun

Api unggun adalah manusia langka yang populer. Ia memberikan perhatian, senyuman, bimbingan, kepemimpinan atau kasih dalam porsi yang sangat besar pada semua orang, tidak perduli siapa dan seakrab apa. Ia sama sekali nggak perlu alasan kenapa harus demikian karena emang udah nature-nya dia. Dia stand out di tengah komunitas dan semua orang berkerumun di sekitarnya berharap bisa memilikinya.

Tapi di mata manusia goa, perhatian dalam porsi sebesar ini artinya adalah: dia cinta padaku. Didukung hipotesa yang ia anggap fakta ini, ia mulai mengajukan tuntutan-tuntutan nggak masuk akal seperti: jangan perhatikan dia, atau jangan sentuh dia, atau kenapa lu akrab sama dia dan kenapa baik banget sama dia. Tuntutan gilanya mendapat respon bukan hanya dari api unggun sendiri, tapi juga orang-orang yang berkerumun di sekitarnya.

– Melakukan hal yang radikal

To have something you have never had, you have to do something you have never done. Ini adalah proses radikal yang di luar akal sehat lu. Misalnya ikut komunitas tertentu, atau bertobat, atau membuat tatanan baru dalam hidup, atau apalah sesuatu yang drastis.

– Matahari

Matahari adalah sumber cahaya dan kehangatan yang nggak ada tandingannya di muka bumi. Sinarnya gratis. Nggak ada yang perlu dikeluarkan agar matahari tetap bersinar. Nggak ada yang bisa miliki matahari untuk dirinya sendiri. Nggak ada yang peduli berapa banyak sinar matahari yang lu dapet karena gue juga dapet. Nggak ada yang perlu bawa-bawa matahari karena semua tempat dapat sinarnya. Matahari sangat jauh dan nggak bisa dicapai. Sebuah entity luar biasa. Entity itu bernama Tuhan, Allah, Buddha, Brahma, Amaterasu atau apa lah.

Kadang kita bertanya-tanya Dia ada di mana, tapi kita tahu Dia ada di sana karena kita bisa lihat sinarnya dan rasain hangatnya. Kadang kita bertanya-tanya ke mana Ia bergerak karena kita nggak melihatnya. Padahal Ia tak bergerak, kita lah yang berputar-putar menjauhinya. Kadang kita membencinya karena Ia memberi kesempatan pada malam untuk hadir dalam kehidupan kita atau orang lain. Tapi melalui malam itu lah kita mendapatkan kesempatan untuk belajar memberikan cahaya dan kehangatan kepada orang lain. Agar orang lain yang kita beri cahaya, dapat juga memberikan cahaya untuk manusia gua lainnya.

____________________________________________________________________________________

Beberapa hal yang pengen gue sampein buat lu semua :

– Kalo seseorang memberi lu perhatian, sebesar apa pun, jangan taroh “dia pasti naksir gue” di no.1 dalam daftar kemungkinan lu. Bisa jadi emang begitu cara ia memperlakukan semua orang dalam level relasi sosial yang sama dengan lu. Hal yang paling buruk terjadi adalah, dia udah pernah baca kisah ini dan dia terang-terangan menyebut lu Manusia Goa.

– Kalo lu memberi korek, lilin, obor atau api unggun kepada Manusia Goa dan di luar keinginan lu dia malah jatuh cinta pada lu, jangan berhenti memberikannya kepada orang lain! Hidup lu dipersiapkan untuk jadi jauh lebih besar dan bermakna dari sekedar bete karena rengekan seorang Manusia Goa!

– Nggak perduli lu melankonis atau Manusia Goa dari region mana, ya ya gue tau bumi berputar buat lu. Tapi satu hal yang gue mo kasih tau, GUE TULIS INI BUKAN KHUSUS BUAT NYINDIR LU SEORANG. Nggak penting banget.

– Kalo lu merasa selama ini sudah jadi Manusia Goa, ingatlah selalu bahwa lu bisa jadi lebih baik dari itu. Yang penting lu lakuin tindakan radikal dalam hidup lu. Obviously tindakan radikal yang positif. Nggak usah bahas-bahas soal gimana orang lain atau apa yang harusnya dilakukan orang lain buat lu. Nonsense. Semuanya soal lu!

– …dan yang terakhir: Sori merusak kebahagiaan lu, tapi bisa jadi dia bukan lagi jatuh cinta sama looo!!




RSS kompas

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
September 2017
M T W T F S S
« Aug    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930